Skip to content

Bagaimana Mengurus Perceraian Katolik

KOMPAS.com – Dalam agama Katolik, pernikahan ditandai dengan satu selamanya dan tidak diceraikan. Oleh karena itu, umat Katolik tidak dapat bercerai secara agama.

Aturan ini tertuang dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) atau Kan yang disusun dan disahkan oleh gereja, bersifat gerejawi dan mengikat umat Katolik. Dalam hukum gereja, tidak ada perceraian.

Baik. 1141 berbunyi, “Perkawinan ratu dan consummatum tidak dapat diakhiri oleh kekuatan manusia mana pun dan karena alasan apa pun, selain oleh kematian.”

Dalam KHK, Ratum adalah perkawinan yang sah antara orang yang dibaptis, sedangkan consummatum adalah persetubuhan yang melengkapi perkawinan.

Baca juga: Cara Mengurus Perceraian Sendiri Tanpa Pengacara

Perceraian dalam Katolik

Meskipun perceraian dilarang di Gereja Katolik, masih banyak kasus perceraian. Biasanya yang sudah bercerai dan ingin menikah lagi, pindah gereja (Kristen Protestan) agar perceraian dan pernikahannya dapat diakui.

Umat ​​Katolik yang bercerai secara sepihak, secara agama dianggap masih menikah dengan pasangannya sebelumnya. Menurut Katolik, pernikahan tetap tak terpisahkan.

Jika orang tersebut menikah lagi di luar gereja maka pernikahan tersebut dianggap tidak sah di mata agama. Ini karena umat Katolik harus mendapatkan izin perceraian dari gereja jika ingin menikah lagi.

Tidak hanya itu, umat Katolik yang bercerai juga tidak diperbolehkan menerima Komuni karena telah keluar dari gereja Katolik.

Perceraian Katolik dalam Hukum Positif Indonesia

Meskipun pernikahan agama Katolik tidak dapat diceraikan, hukum positif Indonesia mengizinkan hal ini.

Dalam hukum positif Indonesia, aturan tentang perkawinan, termasuk perceraian, tertuang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019.

.