Dua Alasan Lembaga Setara Sebut Depok Kota Paling Intoleransi

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Eksekutif Setara Institute Ismail Hasani menjelaskan alasan Kota Depok, Jawa Barat menempati urutan paling buncit dalam indeks kota toleran hasil risetnya sepanjang tahun 2021.

“Harus saya akui, masalah utama di Depok adalah dua hal yang sebenarnya berbobot tinggi. Pertama, ada produk hukum yang diskriminatif, yang sudah ada dan efektif diterapkan oleh pemerintah,” kata Ismail kepada wartawan di Hotel Ashley, Rabu (30/3/2022).

Produk hukum ini memiliki nilai bobot 10 persen dari delapan indikator indeks kota toleran versi Setara Institute.

Selain produk hukum, kepemimpinan politik di Depok dinilai tidak mengedepankan toleransi.

Padahal, kebijakan diskriminatif dan insiden intoleransi sama-sama memiliki bobot 20 persen dalam penilaian.

Baca juga: Depok Kota Paling Intoleransi Berdasarkan Riset Equivalent Institute 2021

“Jadi bisa dibayangkan, atas perintah walikota, tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba sebuah masjid disegel,” lanjut Ismail.

“Ini yang jadi masalah. Jadi, tidak hanya di tataran regulasi yang bobotnya 20 persen, tapi juga tindakan politik intoleran walikota,” katanya.

Pada

Oktober 2021, Wali Kota Depok Mohammad Idris dikecam keras karena tiba-tiba menyegel kembali Masjid Al-Hidayah milik kelompok Ahmadiyah di Sawangan.

Penyegelan itu disertai intimidasi, ancaman, dan ujaran kebencian dari sekelompok orang yang datang bersama Satpol PP Kota Depok.

“Kebalikan dari pemimpin yang toleran adalah pemimpin yang intoleran, dan itu terjadi di Depok. Kita bisa melihat bagaimana kepala daerah Depok tidak terbuka terhadap pluralisme,” kata Ismail.

.