Memperingati Sejarah Gerakan Cinta Produk Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menunjukkan kemarahannya karena sejumlah menteri dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih suka membeli barang impor terkait pengadaan program lembaganya masing-masing.

Saat Jokowi memberikan arahan pada Afirmasi Bangga Produk Indonesia yang digelar di Bali dan disiarkan secara online Jumat (25/3/2022) lalu, Presiden malah melontarkan sindiran pedas kepada sejumlah anak buahnya.

Menurut Jokowi, perincian anggaran modal untuk perusahaan pusat, daerah, dan BUMN sangat besar.

“Kalau dipakai kita tidak perlu muluk-muluk, cukup dibelokkan 40 persen, 40 persennya bisa memicu pertumbuhan ekonomi kita, yang pemerintah dan pemerintah daerah bisa mencapai 1,71 persen,” kata Presiden.

“BUMN itu 1,5 hingga 1,7 persen. Ini lebih dari 2 persen, Anda tidak perlu mencari ke mana-mana, Anda tidak perlu mencari investor, kami hanya diam tetapi secara konsisten membeli barang-barang yang diproduksi oleh pabrik kami, industri, UKM. Kenapa tidak kita lakukan. Bodoh jika kita tidak melakukan ini,” tambah Kepala Negara.

Baca juga: Jokowi Marah dengan Banyak Kementerian Impor Produk, Disebut Bodoh dan Dilarang Tepuk Tangan

class="ads-on-body">

Presiden juga menjelaskan situasi dunia yang tidak menentu akibat dampak pandemi Covid-19 dan perang antara Rusia dan Ukraina. Akibatnya, sejumlah dampak mulai dari krisis energi, krisis pangan hingga inflasi dirasakan oleh banyak negara di dunia.

Oleh karena itu, Jokowi menilai antisipasi yang bisa dilakukan Indonesia yaitu menggunakan APBN, APBD hingga anggaran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Dari Mandiri Menjadi Bangga Buatan Indonesia

Pernyataan Presiden Joko Widodo tentang barang-barang buatan dalam negeri yang dianggap kurang diminati sebenarnya bukan kali ini saja. Meski berganti pemerintahan, ajakan penggunaan produk dalam negeri terus bermunculan.

Presiden

pertama Republik Indonesia Ir. Sukarno telah menggemakan pertanyaan tentang kemerdekaan bangsa dalam hal penciptaan produk dan kecintaan pada barang-barang buatan lokal.

Baca juga: Marah Kementerian Masih Pakai Produk Impor, Jokowi: Reshuffle! Seperti Ini Tidak Bisa Berjalan

Sukarno pernah mengucapkan kata Berdikari pada tahun 1950-an. Menjadi mandiri berarti berdiri di atas kaki sendiri. Akronim tersebut disampaikan agar bangsa Indonesia bangkit setelah mencapai kemerdekaan dengan membuat dan menggunakan barang-barang buatan dalam negeri.

.