Minyak Goreng Langka, Manajemen Industri Kelapa Sawit Dianggap Bermasalah dari Hulu

JAKARTA, KOMPAS.com – Kelangkaan dan mahalnya harga minyak goreng di Indonesia akhir-akhir ini dianggap sebagai gambaran bahwa selama ini pengelolaan industri kelapa sawit belum dilakukan dengan baik.

Sejumlah ormas mendesak Presiden Joko Widodo segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap industri sawit dari hulu hingga hilir secara transparan.

“Hal ini berguna untuk melihat apakah kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng karena inefisiensi atau karena mekanisme yang tidak adil dalam rantai produksi dan perdagangan CPO (crude palm oil/minyak sawit) dan minyak goreng,” kata Wakil Direktur Utama Sawit. Saksikan Achmad Surambo dalam siaran. pers diterima Ipadguides.com, Sabtu (26/3/2022).

Siaran pers tersebut merupakan pernyataan bersama antara Sawit Watch dengan beberapa organisasi lain: ELSAM, HuMA, PILNET, dan Greenpeace Indonesia.

Menurut organisasi ini, ada berbagai masalah dalam rantai industri kelapa sawit dari hulu ke hilir:

1. Dikendalikan oleh segelintir pihak

Rambo menuturkan, berdasarkan data Concentration Ratio (CR) yang dihimpun KPPU pada 2019, sekitar 40 persen pangsa pasar minyak goreng dikuasai empat perusahaan besar yang menguasai bisnis perkebunan, pengolahan CPO (crude palm oil/minyak sawit), dan beberapa produk turunan. minyak goreng saja.

2.
Pemerintah memanjakan industri biodiesel

Pemerintah juga dinilai kurang berpihak pada industri makanan dari sisi minyak sawit, membuat tren konsumsi minyak sawit bergeser ke industri biodiesel.

“Para pengusaha kini lebih condong mendistribusikan CPO ke pabrik biodiesel karena pemerintah menjamin perusahaan tidak merugi,” kata Rambo.

Baca juga: Puskesmas Tebet Gelar Vaksin Booster Berhadiah Minyak Goreng, Simak Jadwal dan Ketentuannya

“Ini karena ada subsidi yang berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) jika harga patokan dalam negeri lebih rendah dari harga internasional. Sebaliknya jika CPO dijual ke pabrik minyak goreng, pengusaha melakukannya. tidak mendapatkan insentif seperti itu,” jelasnya.

Dia

menjelaskan, konsumsi minyak sawit untuk biodiesel naik tajam dari 5,83 juta ton pada 2019 menjadi 7,23 juta ton pada 2020.

.