Skip to content

Tersangka Penganiayaan di Karimun Kepri Mendapat Keadilan Restoratif dari JPU

Karimun, KOMPAS.com – Seorang pria berinisial HL (43) yang menjadi tersangka penyerangan menerima a keadilan restoratif atau restorative justice dari Kejaksaan Negeri (Cabjari) Karimun di Moro.

Hal itu setelah Kacabjari Moro secara resmi menyerahkan Surat Penghentian Penuntutan (SKP2) kepada HL atas tindak pidana pencabulan terhadap perempuan berinisial SN (42), Selasa (29/3/2022).

Baca Juga: 35 Perusahaan Tunggakan Pajak Kendaraan, Kejaksaan Agung Banten Bantu Bapenda Tarik Tunggakan

Kacabjari Moro, Haryo Nugroho mengatakan pihaknya mengeluarkan SKP2 terhadap tersangka setelah melakukan mediasi dengan korban.

Dimana, mediasi difasilitasi langsung oleh dirinya dan jaksa penuntut umum di Cabjari Moro. Jan Fanther Rio Simanungkalit.

“Penuntutan kasus tersangka dihentikan melalui proses mediasi dengan pendekatan keadilan restoratif. Pelaku sudah memenuhi syarat karena baru pertama kali melakukan tindak pidana dan hukuman penjara tidak lebih dari 5 tahun,” kata Kacabjari Haryo. melalui telepon, Rabu (30/3/2022).

Baca juga: Kasus Kandang Manusia di Langkat, Polda Sumut Kembali Periksa 6 Saksi, dari Security hingga Cook

Haryo menjelaskan, proses mediasi telah dilakukan hingga kasus tersangka berhasil diselesaikan secara damai dan tanpa paksaan antara tersangka dan korban.

Dimana, tersangka telah meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada korban atas perbuatannya beberapa waktu lalu.

Pukul dengan kayu

Saat itu, kata dia, tersangka memukul korban dengan bayu kecil yang menyebabkan korban mengalami memar di lutut kanan.

“Tersangka dalam kesadarannya telah meminta maaf sebesar-besarnya kepada korban, pemukulan terjadi karena salah paham. Korban dengan hati terbuka telah menerima permintaan maaf tersangka tanpa syarat apapun,” jelas Haryo.

Haryo mengatakan, selama proses mediasi, tersangka didampingi orang tuanya, sedangkan korban didampingi suaminya dan disaksikan oleh kepala desa, kepala dusun, dan tokoh masyarakat setempat.

Baca Juga: Ditangkap Curi Motor Bersama Rekan dan Tunjuk Senjata Api, Pria di Bengkulu Dihajar Massa

Perkara tersangka dihentikan dengan persetujuan Jaksa Agung Muda Pidana Umum pada Kejaksaan Agung Republik Indonesia melalui Kepala Kejaksaan Tinggi Kepulauan Riau.

“Keadilan restoratif ini bertujuan untuk memberikan manfaat hukum bagi masyarakat, khususnya untuk membangun hubungan baik antara tersangka dan korban, sesama warga desa yang tinggal bersebelahan. Sehingga masyarakat dapat hidup rukun antar sesama warga, damai, dan pulang kampung. ke situasi seperti dulu,” jelas Haryo.

Diketahui sebelumnya tersangka dijerat pasal 351 ayat (1) KUHP yang diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun 8 bulan.

Dapatkan pembaruan berita terpilih dan berita terkini setiap hari dari Ipadguides.com. Jom join grup Telegram “Ipadguides.com News Update”, caranya klik link https://t.me/ipadguidescomupdate, lalu join. Anda harus terlebih dahulu menginstal aplikasi Telegram di ponsel Anda.

.